TUGAS UAS
BIROKRASI DALAM PELAYANAN PUBLIK
(STUDI KASUS : PADA PELAYANAN TRANSJAKARTA) DI KOTA
JAKARTA
OLEH :
ANGGI APRILIAN C. PUTRI
NIM : 202020100060
PROGRAM STUDI S-1 ADMINISTRASI PUBLIK
FAKULTAS BISNIS, HUKUM DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
puji syukur Saya panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-NYA
Saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan judul “BIROKRASI DALAM
PELAYANAN PUBLIK STUDI KASUS PADA PELAYANAN TRANSJAKARTA” dengan tepat waktu.
Dengan Saya harapkan kiranya makalah yang telah Saya selesaikan dapat
bermanfaat bagi para pembaca atau pihak lain yang membutuhkan informasi dalam makalah
ini.
Dalam
penulisan makalah ini, Saya menyadari sepenuhnya adanya kekurangan dan jauh
dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun Saya
harapkan dari para pembaca agar dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir
kata, Saya mohon maaf atas kekurangannya dan semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.
Sidoarjo,
14 Januari 2021
Penyusun
KATA PENGANTAR.............................................................................................. 2
DAFTAR ISI............................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 4
1.1 LATAR BELAKANG........................................................................................ 4
1.2 RUMUSAN MASALAH.................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................... 5
2.1 DEFINISI TRANSPORTASI PUBLIK............................................................. 5
2.2 SEJARAH PT. TRANSPORTASI JAKARTA.................................................. 6
2.3 KUALITAS DAN TINGKAT PELAYANAN TRANSJAKARTA................. 6
2.4 KECEPATAN PERJALANAN DAN WAKTU
TUNGGU TRANSJAKARTA 7
2.5 PENGUMPULAN TARIF DAN TEKNOLOGI TICKETING........................ 8
BAB III PENUTUP.................................................................................................. 10
3.1 KESIMPULAN................................................................................................... 10
3.2 SARAN............................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 11
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Transjakarta merupakan salah satu alat transportasi di
Jakarta yang beroprasi sejak tahun 2004 yang dirancang sebagai moda transportasi
untuk mengangkut calon penumpang dengan fasilitas yang cepat, nyaman dan
murah. Pada awal kelahirannya,
Transjakarta hadir untuk memperbaiki wajah transportasi publik Ibu Kota yang
sudah teramat usang
Secara tidak langsung dengan hadirnya Transjakarta dapat
mengurangi kemacetan dengan berubahnya pilihan penumpang dari kendaraan pribadi
ke kendaraan umum. Angkutan umum merupakan salah satu cara mengurangi
pencemaran udara akibat kendaraan bermotor. Jika masyarakat menggunakan
angkutan umum, tentu jumlah kendaraan pribadi akan berkurang dijalan sehingga
polusi udara akibat kendaraan bermotor juga dapat berkurang.
Transjakarta dioprasikan oleh PT. Transportasi jakarta.
Berdasarkan data jumlah penumpang Transjakarta dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta,
jumlah penumpang meningkat setiap tahunnya. Jumlah rata-rata harian pengguna
Transjakarta diprediksi sekitar 350.000 orang. Berdasarkan data jumlah
penumpang Transjakarta dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta, jumlah penumpang
meningkat setiap tahunnya.
Transjakarta memiliki sistem BRT terpanjang didunia
(230,9 km) pada tahun 2017 dengan 13 koridor utama dan 10 rute lintas koridor.
Tiga koridor lagi dijadwalkan dimulai pada tahun 2014 atau 2015 dan sebagian
akan meningkat sedangkan koridor yang berada pada tingkat dasar. Selain itu,
terdapat 18 rute “feeder” yang melayani diluar koridor busway eksklusif untuk
melayani kota-kota satelit di Jabodetabek. Jumlah bus Transjakarta juga
meningkat drastis, dari 605 bus pada 2015 menjadi 4.300 pada 2020.
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Apa
pengertian transportasi publik?
2.
Bagaimana
sejarah PT. Transportasi Jakarta?
3.
Bagaimana
kualitas dan tingkat pelayanan
Transjakarta?
4.
Bagaimana cara mengetahui kecepatan
perjalanan dan waktu tunggu Transjakarta?
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Definisi Transportasi Publik
Transportasi adalah perpindahan manusia atau barang dari
satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah kendaraan yang
digerakkan oleh manusia/mesin dengan tujuan memudahkan manusia dalam melakukan
aktivitas sehari-hari. “Transportasi” merupakan sebuah kata yang sudah tak
lazim diketahui oleh seluruh manusia dimuka bumi ini. Semua orang dengan
berbagai latar belakang pendidikan, ekonomi, sosial, politik, umur, siapapun
tanpa terkecuali, sudah pernah menggunakan transportasi, sampai sekarang masih
membutuhkannya dan dimasa yang akan datang pun akan tetap membutuhkan
transportasi.
Definisi transportasi menurut beberapa ahli adalah
sebagai berikut :
1.
Menurut
Morlok (1978), transportasi didefinisikan sebagai kegiatan memindahkan atau
mengangkut sesuatu dari suatu tempat ketempat kain.
2.
Menurut
Bowersox (1981), trasportasi adalah perpindahan barang atau penumpang dari
suatu tempat ke tempat lain, dimana produk dipindahkan ke tempat tujuan
dibutuhkan. Dan secara umum transportasi adalah suatu kegiatan memindahkan
sesuatu (barang) dari suatu tempat ketempat lain, baik dengan atau tanpa
sarana.
3.
Menurut
Steenbrink (1974), transportasi adalah perpindahan orang atau barang dengan
menggunakan alat atau kendaraan dari dan ke tempat-tempat yang terpisah secara
geografis.
4.
Menurut
Papacostas (1987), transportasi didefinisikan sebagai suatu sistem yang terdiri
dari fasilitas tertentu beserta arus dan sistem control yang memungkinkan orang
atau barang dapat berpindah dari suatu tempat ke tempat lain secara efisien
dalam setiap watu untuk mendukung aktivitas manusia.
Transportasi publik mempunyai jalur dan rute yang sudah
ditentukan, harga yang tetap, dan memiliki halte tertentu. Umumnya transportasi
publik juga memiliki jadwal yang sudah ditentukan. Sektor transportasi publik
harus mampu memberikan kemudahan bagi seluruh masyarakat dalam segala kegiatan
di semua lokasi yang berbeda dan tersebar dengan karakter fisik yang berbeda
pula. Dengan adanya angkutan umum yang aman, cepat dan murah, selain
mencerminkan keteraturan kota, juga mencerminkan kelancaran kegiatan
perekonomian kota.
2.2
Sejarah PT.Transportasi Jakarta
PT.
Transportasi Jakarta adalah penyedia Bus Rapid Transit (BRT) utama di DKI
Jakarta yang hingga sekarang melayani total 79 rute di Jakarta dan sekitarnya.
Kualitas organisasinya yaitu dengan peningkatan pelayanan yang disediakan untuk
411.494 pengguna Transjakarta setiap harinya.
PT. Transportasi Jakarta awalnya bernama Badan Layanan
Umum (BLU) Tranjakarta dan Unit Pengelola Transjakarta Busway (UPTB). Lembaga
ini dibentuk pada tahun 2003 berdasarkan SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor
110/2003 tentang Pembentukan BP Transjakarta. Pada tahun 2006 namanya kemudian
diganti menjadi BLU Transjakarta berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 48 tahun
2006, kemudian menjadi Unit Pengelola. UPTB bernaung di bawah Dinas Perhubungan
Provinsi DKI Jakarta. Lembaga ini dibubarkan pada akhir tahun 2003 dan
dogantikan oleh PT Transportasi Jakarta yang merupakan Badan Usaha Milik Daerah
(BUMD) yang resmi didirikan pada 27 Maret 2014.
PT. Transportasi Jakarta memiliki kewenangan atas operasional seluruh koridor dan area kerja Tranjakarta serta melakukan pengawasan dan koordinasi dengan operator koridor, penyedia armada bus, dan pengelola pool SPBG.
2.3 Kualitas dan Tingkat Pelayanan
Transjakarta
Kualitas atau tingkat
pelayanan merupakan suatu ukuran kualitatif yang menjelaskan kondisi-kondisi
operasional di dalam suatu aliran lalu lintas dan persepsi dari pengemudi dan
atau penumpang terhadap kondisi-kondisi tersebut. Aspek-aspek yang berkaitan
dengan kualitas pelayanan dijelaskan sebagai berikut :
a.
Waktu tunggu. Lamanya waktu yang
dibutuhkan seorang calon penumpang untuk mendapatkan kendaraan. Waktu tunggu
diperoleh berdasarkan headway, yaitu selang waktu antara kendaraan dengan
kendaraan yang berurutan di belakangnya pada satu rute yang sama.
b.
Aksesibilitas. Jarak yang ditempuh oleh
pengguna transportasi umum dari tempat asal pejalanan sampai ke temp at henti terdekat untuk mendapatkan transportasi
umum. Aksesibilitas merupakan suatu indikasi yang dapat memberikan petunjuk
sejauh mana kemudahan penumpang dalam mencapai tempat pemberhentian menuju ke
tempat tujuan.
c.
Kepadatan penumpang. Kepadatan penumpang
berkaitan dengan kapasitas kendaraan dan faktor muatnya (load factor).
d.
Total waktu perjalanan. Total waktu
perjalanan adalah waktu yang dibutuhkan penumpang dari saat berjalan kaki
sampai ke halte/aksesibilitas, menggunakan kendaraan di halte dan waktu tempuh
dalam kendaraan.
Berdasarkan Standar
Prosedur Operasi dan Pelayanan Transjakarta Busway bahwa dalam pelaksanaan operasional
Transjakarta Busway harus memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya setingkat
dengan Standar Internasional kepada pengguna jasa agar seluruh pengguna jasa
dapat terlayani dengan baik. Berikut adalah Konsep Tingkat Pelayanan Angkutan
Umum bertaraf Internasional :
Konsep Tingkat Pelayanan Angkutan Umum
(Transportation Research Board, USA) :
|
Tingkat Pelayanan |
Waktu Tunggu (menit) |
Headway (menit) |
Kepadatan Penumpang |
|
A |
- |
<2 |
Tempat duduk terpisah dengan sandaran yang tinggi |
|
B |
<5 |
2-4 |
Tempat duduk sejajar membujur per penumpang minimum
0,46 m2/pnp |
|
C |
5-10 |
5-9 |
Tempat duduk sejajar membujur per penumpang minimum
0,46 m2/pnp |
|
D |
>10 |
10-14 |
Tempat duduk 0,28-0,46 m2/pnp atau faktor
muat 100-110% |
|
E |
|
15-20 |
Faktor muat 111-125% |
|
F |
|
>20 |
Faktor muat >125 |
2.4 Kecepatan Perjalanan dan Waktu Tunggu
Transjakarta
Kecepetan perjalanan dan
waktu tempuh adalah indikator utama yang dijadikan penilaian pada kinerja
operasional Trasjakarta karena merupakan indikator yang menunjukkan performansi
bus dalam memberikan tingkat pelayanan Transjakarta kepada pengguna jasa.
Waktu tempuh diperoleh
dari hasil survey on bus, yang dapat digunakan untuk menghitung kecepatan
perjalanan bus pada koridor. Semakin pendek waktu tempuh bus melintas pada
koridor satu, berarti bus mampu mengalirkan penumpang dengan kecepatan yang
tinggi dan sebaliknya semakin panjang waktu tempuh, menunjukkan bahwa tingkat
pelayanannya rendah. Hal ini kemungkinan disebabkan adanya hambatan yang
memperngaruhi laju kendaraan.
Kegiatan yang merupakan
perbandingan antara jarak dan waktu tempuh pada koridor penelitian akan
tergantung oleh gangguan yang berada pada sekitar ruas jalan, semakin tinggi
gangguan yang terjadi maka akan membawa akibat menurunnya kecepatan perjalanan
tersebut. Kecepatan dapat dihitung dengan persamaan :
|
Kecepatan Bus = |
Jarak Lintasan |
|
Waktu Tempuh |
Selain kecepatan dan waktu
tempuh, parameter atau indikator lain yang dapat dijadikan penilaian kinerja
operasiona; Transjakarta adalah waktu tunggu. Waktu tunggu didapat dari headway
yaitu perbandingan antara waktu perjalanan bolak-balik (RTT) dengan frekuensi
bus per jam. Headway yang lama menyebabkan pengguna jasa enggan menunggu dan
memilih kendaraan lain.
Headway didapat dari
survey statis selama satu jam pada jam sibuk dan tidak sibuk. Dengan
mendapatakan besaran headway dapat diketahui jumlah bus operasi selama satu jam
pada jam sibuk dan tidak sibuk serta waktu tunggu penumpang untuk mendapatkan
bus disepanjang koridor penelitian. Headway didapat dengan persamaan :
|
Headway = |
RTT |
|
Frekuensi Kendaraan |
2.5 Pengumpulan
Tarif dan Teknologi Ticketing
Sistem
ticketing saat ini hanya dapat melacak nomor perkiraan penumpang di setiap
shelter bus, tetapi tidak ada cara untuk mengidentifikasi waktu asal/tujuan,
naik/turun. Tanpa informasi ini, manajemen tidak dapat mengevaluasi kinerja
sistemnya.
Pada
saat ini semua penumpang harus membeli tiket untuk setiap perjalanan sering mengharuskan
mereka untuk mengantri pada saat jam sibuk. Ini juga menyebabkan risiko
penanganan uang tunai di konter tiket. Sistem tarif flat mudah dijalankan
tetapi memberikan diskon besar untuk perjalanan lebih lama dan mengurangi
potensi pendapatan dari sistem sehingga memerlukan lebih banyak dukungan
keuangan.
Meningkatkan
teknologi untuk pengumpulan uang tunai dan ticketing akan memungkinkan
manajemen yang lebih baik dalam teknologi yang lebih canggih pada proses
pengumpulan tarif sehingga memberikan manfaat yang meliputi:
Ø Kemudahan
mengelola sistem berdasarkan jarak yang menetapkan biaya tergantung pada jarak
tempuh termasuk perhitungan untuk lebih dari sejumlah perjalanan terpisah. Hal ini menghilangkan pinalti biaya
transfer bus.
Ø Dapat
menawarkan tarif perjalanan menerus pada berbagai moda angkutan perjalanan (bus
ke kereta api).
Ø Dapat
merancang target diskon kepada penumpang dengan volume yang lebih tinggi, untuk
membangun loyalitas penumpang.
Ø Dapat
menargetkan diskon dan konsesi lebih akurat untuk kelompok sasaran dan pengguna
tertentu, dalam rangka mengatasi masalah keterjangkauan.
Ø Dapat
membatasi hak perjalanan gratis berdasarkan waktu, misalnya siang atau sejumlah
perjalanan gratis tertentu (tidak ada diskon).
Ø Dapat
digunakan untuk memaksimalkan pendapatan sekaligus menawarkan manfaat tambahan
(menambahkan nilai bukan hanya diskon).
Ø Memberikan
data perjalanan dan perilaku penumpang untuk membantu perencanaan sistem dan
target layanan.
Ø Mesin
vending otomatis yang dapat digunakan untuk mengisi ulang kartu serta
menggunakan vendor luar sebagai lokasi 'titik penjualan' kartu sehingga proses
pengisian kartu lebih mudah dilakukan.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Ø Pemerintah daerah khusus Ibukota Jakarta telah membangun
sebuah moda transportasi angkutan massal yang berbasis jalan atau menggunakan
jalur khusus atau lebih dikenal dengan sebutan busway, adapun sebutan lain
adalah Bus Rapid Transit (BRT) yang sebetulnya merupakan sebuah moda
transportasi yang dikenal sebagai busway tetapi berkualitas tinggi. Moda
transportasi ini dibangun karena moda transportasi massal pendukung aktivitas
ibu kota yang sangat padat.
3.2
Saran
1.
Meningkatkan
operasional Transjakarta dengan sejumlah armada yang dibutuhkan sesuai dengan
indikator headway.
2.
Menambah kapasitas transaportasi umum
dan faktor muatnya.
3.
Meningkatkan
waktu perjalanan dan mengurangi waktu tunggu Transjakarta
DAFTAR
PUSTAKA
(JAPTraPIS),
P. f. (., . .). TUJUAN DAN STRATEGI PEMBANGUNAN. Diambil kembali dari LAPORAN
AKHIR: Teks Utama: https://openjicareport.jica.go.jp/pdf/12079026_03.pdf
^
http://www.tempo.co/read/news/2014/06/01/083581606/
Mulai-Hari-Ini-Transjakarta-24-Jam-di-Tiga-Koridor Mulai Hari Ini Transjakarta
24 Jam di Tiga Koridor
^
http://transjakarta.co.id/tentangkami.php?page_id=1
Tentang Kami
^
http://transjakarta.co.id/penumpang.php?year=2012
Total Penumpang 2012
N.
A. Sumarno, “ANALISIS KINERJA OPERASIONAL TRANSJAKARTA BUSWAYDALAM UPAYA
PENINGKATAN PELAYANAN (Studi Kasus : Koridor I),” april 2008. http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/logistik/article/view/11156/6947
^
Penulis staf (2 April 2016). "Ini Rute TransJakarta Gratis untuk Warga
Penghuni Rusunawa". Liputan6.com. KapanLagi Youniverse. Diakses tanggal 2
April 2016
^ Liputan6 (10 April 2017). "Transjakarta
Luncurkan Bus Baru Bernama Maxi, Apa Itu?". Liputan6.com. Diakses
tanggal 25 Maret 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar